Segala puji serta syukur kita
anugerahkan kepada Allah Swt, Yang senantiasa merahmati hamba-Nya yang berkenan
mempelajari sunnah-sunnah Rasul-Nya. Kemudian shalawat serta salam yang tulus
kita ucapkan kepada Rasulullah Saw yang menyampaikan risalah kerasulannya
kepada umatnya berdasarkan wahyu.
karya-karya para
cendikiawan muslim dari abad ke abad tetap eksis di kalangan pengkaji ilmu
agama. Salah satunya adalah al-Targhîb wa al-Tarhîb karya al-Imâm al-Hâfizh
al-Mundzirî yang kaya akan manfaat. Sehingga kitab ini banyak menjadi sorotan
pengkaji keislaman, khususnya dalam ilmu hadis. Kitab ini pun tak luput dari
telaah tokoh kontemporer.
Sebut saja
Syeikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, ia berhasil menyusun kitab yang memuat
hadis-hadis yang ia nilai sebagai hadis shahîh dan dha‘îf yang terdapat di
dalam kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini.
Namun terlepas dari paparan Syeikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî tentang kitab
ini, di sini penulis hanya akan mengurai sedikit tentang kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini, baik sejarah maupun
metodologi penulisan, serta ihwal penulisnya.
B. PEMBAHASAN
1. Biografi
Imam al Mundziri
Nama lengkap beliau adalah Zakiyyuddin Abdul ‘Adzhim bin Abdul-Qawiy bin
Abdullah bin Salamah Abu Muhammad Al-Mundziri, beliau berasal dari Damaskus, dilahirkan di daerah
ghurrah dan wafat di Mesir. Beliau dilahirkan pada tahun 581 H. Imam
Al-Mundziri rahimahullah wafat pada tanggal 4 Dzulqa’dah tahun 656 H.[1]
Semasa perjalanannya ke
beberapa daerah selama bertahun-tahun, berbagai ilmu pengetahuan berhasil ia
peroleh. Hingga bisa dikatakan kemampuannya dalam ilmu agama -khususnya hadis-
melebihi tokoh-tokoh sejawatnya pada masa itu.
Menurut pernyataan al-Dzahabî, al-Mundzirî telah memulai belajar hadis
serta seluk beluknya dari beberapa orang guru semenjak tahun 591 Hijriyah,
tepatnya saat ia berumur 10 tahun. Di samping itu ia pun menekuni al-Qirâ’ât
al-Sab‘ dari pakarnya.[2]
2.
Guru-Guru Imam al Mundziri Dan Murid-Muridnya
Di Makkah ia belajar
dan meriwayatkan hadis dari al-Hâfizh Abî ‘Abdillâh Ibn al-Binâ’. Di Madînah ia
belajar dan meriwayatkan hadis dari al-Hâfizh Ja‘far Ibn Amûrisân (أمورسان).
Di Damaskus ia belajar dari al-Hâfizh ‘Umar Ibn Thabirzadz (طبرزذ) dan al-Hâfizh
Abû al-Yaman al-Kindî. Dan di beberapa kota lainnya seperti al-Iskandariyyah,
Harrân dan Bayt al-Maqdis dari al-Hâfizh al-Muthahhar Ibn Abî Bakr al-Baihaqî
dan al-Hâfizh ‘Alî al-Mufaddhal al-Maqdisî.[3]
Kepakarannya
dalam hadis dan mushthalah-nya
menarik para pelajar dari berbagai daerah untuk menggali ilmu darinya. Bahkan
al-Dzahabî yang dikenal sebagai seorang yang pakar hadis dan al-Hâfizh mengakui
bahwa kebanyakan guru-gurunya adalah murid dari al-Mundzirî. Ia mengatakan,
“diantara guru-guru kami yang belajar hadis darinya adalah al-Dimyâthî, Ibn al-Zhâhirî,
Abû al-Husayn al-Yûnaynî, Abû ‘Abdillâh al-Qazzâz, Ismâ‘îl Ibn al-Nashr”.[4] Lebih dari itu, ulama besar seperti
Qâdhî al-Quddhât Taqiyy al-Dîn Ibn Daqîq al-‘Ied dan Sulthân al-‘Ulamâ’ ‘Izz
al-Dîn Ibn ‘Abdissalâm pun merupakan murid dari al-Mundzirî.[5]Oleh karena itu, mengenai kualitas
al-Mundzirî dalam meriwayatkan hadis, Ibn ‘Abdissalâm men-ta‘dîl al-Mundzirî dengan sebutan Imâm Hujjah Tsabt Mutatsabbit yang tiada bandingan pada masanya
dalam ilmu hadis dengan segala cabangnya.[6]
Beliau belajar Al-Qur’an dan
mendalaminya. Kemudian belajar ilmu hadits hingga mahir. Beliau mendengar
hadits dari sejumlah ulama’ hadits, seperti Abul-Hasan Ali bin Mufadldlal
Al-Muqaddasi. berguru kepadanya hingga tamat. Di Madinah kota Nabi, beliau
berguru kepada Al-Hafidh Ja’far bin Umusan. Di Damaskus, ia berguru pada ‘Umar
bin Thabrazad, dan juga berguru ke Najran. Iskandariyah, Raha, dan
Baitul-Maqdis. Ia mulai berguru pada tahun 591 H ketika berusia sepuluh tahun.
Sejumlah ulama yang pernah belajar hadits padanya antara lain Al-Hafidh
Ad-Dimyathi yang berguru sampai tamat, Al-‘Allamah Taqiyyuddin Ibnu
Daqqiiqil-‘Ied, Al-Yunaini Abul-Husain, Ismail bin Asakir, dan Syarif ‘Izzudin.
Beliau mengajar di Universitas Adh-Dhafiri di Kairo. Kemudian menjadi wali
wilayah Dar Kamilah. Tetapi, kemudian beliau meninggalkan jabatan itu untuk
menyebarkan ilmu selama dua puluh tahun.
3.
Latar Belakang Penulisan Kitab
Hampir serupa dengan kitab al-Inshâf
karya al-Baqillânî dan al-Mujtabâ (Sunan al-Nasâ’î al-Sughrâ) karya al-Nasâ’î yang
penulisannya dilatarbelakangi oleh permintaan khalifah pada masanya, penulisan
kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini pun mempunyai latar belakang
penulisan. Namun hal yang membedakan antara al-Inshâf dan al-Mujtabâ dengan al-Targhîb
wa al-Tarhîb adalah orang kedua yang melatarbelakangi. Ketika
al-Inshâf dan al-Mujtabâ ditulis atas permintaan khalifah, lain halnya
dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb yang dilatarbelakangi oleh
permintaan para santri al-Mundzirî.
Setelah menyelesaikan penulisan
Mukhtashar Sunan Abî Dâwûd dan kitab-kitab fikih, ia diminta oleh para
santrinya yang begitu perhatian terhadap ilmu agama untuk menulis sebuah karya
yang mencakup aspek-aspek al-Targhîb dan al-Tarhîb yang berasal dari hadis-hadis Nabi
Saw tanpa perlu berpanjang-panjang dalam menuliskan sanad dan pembahasan
kritiknya.Setelah berikhtiar kepada Allah Swt seraya meyakini bahwa permintaan
para santrinya tersebut memang tulus, maka ia pun menulis al-Targhîb wa al-Tarhîb yang ia nilai dengan ungkapan; صغير الحجم غزير العلم “kecil namun dengan limpahan ilmu”.[7]
4. Sumber Pengambilan Kandungan Kitab at
Targhib wat Tarhib
Sesuai dengan namanya, yakni al-Targhîb wa al-Tarhîb min al-Hadîts
al-Syarîf, tampak pengambilannya
berasal dari hadis-hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh imam-imam kutub sittah, termasuk al-Marâsîl karya Abû Dawûd, al-Sunan al-Kubrâ dan Kitâb al-Yawm wa al-Laylah karya al-Nasa’î, tiga kitab al-Mu‘jam karya al-Thabrânî, Musnad Abî Ya‘lâ, Musnad al-Bazzâr, Shahîh Ibn Hibbân, Shahîh Ibn Khuzaimah, al-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhayn karya al-Hâkim, kitâb-kitab karya
Ibn Abî al-Dunyâ, Syu‘ab al-Îmân dan al-Zuhd karya al-Baihaqî. Juga terdapat
kitab dengan judul yang sama dengan karya al-Mundzirî ini, yaitu al-Targhîb wa al-Tarhîb karya Abû al-Qâsim al-Ashbihânî
yang menjadi referensi al-Mundzirî dalam menuliskanal-Targhîb wa al-Tarhîb karyanya. Ia hanya mengambil
tema-tema yang tidak terdapat pada kitab-kitab yang disebutkan di atas.
a. At-Targhiib wat-Tarhiib.
b. Mukhtashar Shahiih Muslim.
c. Mukhtashar Sunan Abi Dawud.
d. Syarhul-Tanbiih li-Abi Ishaq Asy-Syirazi
fil-Fiqhisy-Syaafi’iy.
e. Arba’uuna Hadiitsan fii Fadlli
Isthinaa’il-Ma’ruuf.
f. Al-I’lam bi-Akhbaari Syaikh Al-Bukhari Muhammad
bin Salam.
g. Mu’jam Syuyuukhih.’Amalul-Yaumi
wal-Lailah.
6. Sistematika Penulisan Kitab at Targhib wat Tarhib
Corak penulisan kitab al-Targhîb
wa al-Tarhîb dapat dikatakan memiliki sistematika yang sangat maju
pada masanya. Di samping tersusun rapi bab per-bab dengan urutan model al-Ahamm
fa al-Ahamm (mendahulukan masalah yang lebih urgen) seperti
urutan Kitâb al-‘Ilm, Kitâb al-Thahârah lalu Kitâb
al-Shalâh dan seterusnya, al-Mundzirî menuliskan panduan membaca
kitabnya ini pada pendahuan berupa jenis hadis yang ia cantumkan hanya
berkaitan dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb, melainkan sebagian kecil
hadis yang tidak berkaitan dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb lantaran
rangkaian hadis tersebut mencakup aspek al-Targhîb wa al-Tarhîb dan
aspek lainnya.[9]
7. Sikap
Imam al Mundziri Terhadap Kitabnya
Mengenai status hadis yang ia munculkan, ia mempunyai sikap tersendiri di
tengah-tengah perbedaan pendapat ulama mengenai kualitas sanad hadis tersebut.
Al-Mundzirî menuturkan -sebagaimana di atas-, jika para periwayat hadis itu
kredibel, namun terdapat seorang periwayat yang diperselisihkan, maka ia
menilainya hasan, mustaqîm, lâ ba’sa bih atau ungkapan lainnya
tergantung kondisi sanad dan matan serta keberadaan syawâhid yang
bisa mendukung kekuatannya. Bahkan ia juga mengingatkan kepada murid-muridnya
yang menghadiri majelis imlâ’-nya terhadap beberapa periwayat
seperti Abû Dâwûd yang tasâhul dengan konsep sukût-nya, al-Tirmidzî
dengan tahsîn-nya, kemudian Ibn Hibbân dan al-Hâkim dengan tashhîh-nya.
Namun menurutnya peringatan ini bukan dalam rangka mengkritik mereka, akan
tetapi sebagai hal yang patut diamati oleh pembaca. Untuk periwayatan Abû Dâwûd
yang dipakai oleh al-Mundzirî dalam kitabnya, ia meyakini bahwa kualitas hadis
yang tidak dikomentari oleh Abû Dâwûd tidak kurang dari kualitas hasan, bahkan
tidak jarang terdapat hadis yang mencapai syarat yang ditentukan oleh
al-Bukhârî dan Muslim sehingga al-Bukhârî atau Muslim juga meriwayatkan hadis
yang sama dengan riwayat Abû Dâwûd.[10]
KESIMPULAN
Al-Targhîb
wa al-Tarhîb adalah sebuah kitab yang terdiri dari
hadis-hadis Nabi Saw mengenai keutamaan-keutamaan yang dapat dicapai oleh
seorang muslim ketika melakukan amalan-amalan baik, yang kemudian dinamakan
dengan hadis-hadis Targhîb (ترغيب). Pada sisi lain kitab ini juga memuat
hadis-hadis yang menjelaskan keburukan-keburukan yang akan menimpa seorang
muslim jika melakukan hal-hal tidak baik. Hadis-hadis semacam ini disebut
dengan hadis-hadis Tarhîb (ترهيب).
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Dzahabî, Syams al-Dîn, Tadzkirah
al-Huffâzh, edisi Zakariya ‘Umairat, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
cet.I, 1419H).
Al-Mundzirî, ‘Abd al-‘Azhîm, al-Targhîb wa
al-Tarhîb min al-Hadîts al-Syarîf, edisi Ibrâhîm Syamsuddîn, (Beirut:
Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.III, 1424H).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar