Minggu, 22 Juni 2014

Imam al Mundziri


A.  PENDAHULUAN
Segala puji serta syukur kita anugerahkan kepada Allah Swt, Yang senantiasa merahmati hamba-Nya yang berkenan mempelajari sunnah-sunnah Rasul-Nya. Kemudian shalawat serta salam yang tulus kita ucapkan kepada Rasulullah Saw yang menyampaikan risalah kerasulannya kepada umatnya berdasarkan wahyu.
karya-karya para cendikiawan muslim dari abad ke abad tetap eksis di kalangan pengkaji ilmu agama. Salah satunya adalah al-Targhîb wa al-Tarhîb karya al-Imâm al-Hâfizh al-Mundzirî yang kaya akan manfaat. Sehingga kitab ini banyak menjadi sorotan pengkaji keislaman, khususnya dalam ilmu hadis. Kitab ini pun tak luput dari telaah tokoh kontemporer.
Sebut saja Syeikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, ia berhasil menyusun kitab yang memuat hadis-hadis yang ia nilai sebagai hadis shahîh dan dha‘îf yang terdapat di dalam kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini. Namun terlepas dari paparan Syeikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî tentang kitab ini, di sini penulis hanya akan mengurai sedikit tentang kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini, baik sejarah maupun metodologi penulisan, serta ihwal penulisnya.
B. PEMBAHASAN
1.    Biografi Imam  al Mundziri
Nama lengkap beliau adalah Zakiyyuddin Abdul ‘Adzhim bin Abdul-Qawiy bin Abdullah bin Salamah Abu Muhammad Al-Mundziri, beliau  berasal dari Damaskus, dilahirkan di daerah ghurrah dan wafat di Mesir. Beliau dilahirkan pada tahun 581 H. Imam Al-Mundziri rahimahullah wafat pada tanggal 4 Dzulqa’dah tahun 656 H.[1]
Semasa perjalanannya ke beberapa daerah selama bertahun-tahun, berbagai ilmu pengetahuan berhasil ia peroleh. Hingga bisa dikatakan kemampuannya dalam ilmu agama -khususnya hadis- melebihi tokoh-tokoh sejawatnya pada masa itu.
Menurut pernyataan al-Dzahabî, al-Mundzirî telah memulai belajar hadis serta seluk beluknya dari beberapa orang guru semenjak tahun 591 Hijriyah, tepatnya saat ia berumur 10 tahun. Di samping itu ia pun menekuni al-Qirâ’ât al-Sab‘ dari pakarnya.[2]

2.    Guru-Guru Imam al Mundziri Dan Murid-Muridnya
Di Makkah ia belajar dan meriwayatkan hadis dari al-Hâfizh Abî ‘Abdillâh Ibn al-Binâ’. Di Madînah ia belajar dan meriwayatkan hadis dari al-Hâfizh Ja‘far Ibn Amûrisân (أمورسان). Di Damaskus ia belajar dari al-Hâfizh ‘Umar Ibn Thabirzadz (طبرزذ) dan al-Hâfizh Abû al-Yaman al-Kindî. Dan di beberapa kota lainnya seperti al-Iskandariyyah, Harrân dan Bayt al-Maqdis dari al-Hâfizh al-Muthahhar Ibn Abî Bakr al-Baihaqî dan al-Hâfizh ‘Alî al-Mufaddhal al-Maqdisî.[3]
Kepakarannya dalam hadis dan mushthalah-nya menarik para pelajar dari berbagai daerah untuk menggali ilmu darinya. Bahkan al-Dzahabî yang dikenal sebagai seorang yang pakar hadis dan al-Hâfizh mengakui bahwa kebanyakan guru-gurunya adalah murid dari al-Mundzirî. Ia mengatakan, “diantara guru-guru kami yang belajar hadis darinya adalah al-Dimyâthî, Ibn al-Zhâhirî, Abû al-Husayn al-Yûnaynî, Abû ‘Abdillâh al-Qazzâz, Ismâ‘îl Ibn al-Nashr”.[4] Lebih dari itu, ulama besar seperti Qâdhî al-Quddhât Taqiyy al-Dîn Ibn Daqîq al-‘Ied dan Sulthân al-‘Ulamâ’ ‘Izz al-Dîn Ibn ‘Abdissalâm pun merupakan murid dari al-Mundzirî.[5]Oleh karena itu, mengenai kualitas al-Mundzirî dalam meriwayatkan hadis, Ibn ‘Abdissalâm men-ta‘dîl al-Mundzirî dengan sebutan Imâm Hujjah Tsabt Mutatsabbit yang tiada bandingan pada masanya dalam ilmu hadis dengan segala cabangnya.[6]
Beliau  belajar Al-Qur’an dan mendalaminya. Kemudian belajar ilmu hadits hingga mahir. Beliau mendengar hadits dari sejumlah ulama’ hadits, seperti Abul-Hasan Ali bin Mufadldlal Al-Muqaddasi. berguru kepadanya hingga tamat. Di Madinah kota Nabi, beliau berguru kepada Al-Hafidh Ja’far bin Umusan. Di Damaskus, ia berguru pada ‘Umar bin Thabrazad, dan juga berguru ke Najran. Iskandariyah, Raha, dan Baitul-Maqdis. Ia mulai berguru pada tahun 591 H ketika berusia sepuluh tahun.
Sejumlah ulama yang pernah belajar hadits padanya antara lain Al-Hafidh Ad-Dimyathi yang berguru sampai tamat, Al-‘Allamah Taqiyyuddin Ibnu Daqqiiqil-‘Ied, Al-Yunaini Abul-Husain, Ismail bin Asakir, dan Syarif ‘Izzudin. Beliau mengajar di Universitas Adh-Dhafiri di Kairo. Kemudian menjadi wali wilayah Dar Kamilah. Tetapi, kemudian beliau meninggalkan jabatan itu untuk menyebarkan ilmu selama dua puluh tahun.

3.    Latar Belakang Penulisan Kitab
Hampir serupa dengan kitab al-Inshâf karya al-Baqillânî dan al-Mujtabâ (Sunan al-Nasâ’î al-Sughrâ) karya al-Nasâ’î yang penulisannya dilatarbelakangi oleh permintaan khalifah pada masanya, penulisan kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb ini pun mempunyai latar belakang penulisan. Namun hal yang membedakan antara al-Inshâf dan al-Mujtabâ dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb adalah orang kedua yang melatarbelakangi. Ketika al-Inshâf dan al-Mujtabâ ditulis atas permintaan khalifah, lain halnya dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb yang dilatarbelakangi oleh permintaan para santri al-Mundzirî.
Setelah menyelesaikan penulisan Mukhtashar Sunan Abî Dâwûd dan kitab-kitab fikih, ia diminta oleh para santrinya yang begitu perhatian terhadap ilmu agama untuk menulis sebuah karya yang mencakup aspek-aspek al-Targhîb dan al-Tarhîb yang berasal dari hadis-hadis Nabi Saw tanpa perlu berpanjang-panjang dalam menuliskan sanad dan pembahasan kritiknya.Setelah berikhtiar kepada Allah Swt seraya meyakini bahwa permintaan para santrinya tersebut memang tulus, maka ia pun menulis al-Targhîb wa al-Tarhîb yang ia nilai dengan ungkapan; صغير الحجم غزير العلم kecil namun dengan limpahan ilmu”.[7]
4.    Sumber Pengambilan Kandungan Kitab at Targhib wat Tarhib

Sesuai dengan namanya, yakni al-Targhîb wa al-Tarhîb min al-Hadîts al-Syarîf, tampak pengambilannya berasal dari hadis-hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh imam-imam kutub sittah, termasuk al-Marâsîl karya Abû Dawûd, al-Sunan al-Kubrâ dan Kitâb al-Yawm wa al-Laylah karya al-Nasa’î, tiga kitab al-Mu‘jam karya al-Thabrânî, Musnad Abî Ya‘lâ, Musnad al-Bazzâr, Shahîh Ibn HibbânShahîh Ibn Khuzaimahal-Mustadrak ‘alâ al-Shahîhayn karya al-Hâkim, kitâb-kitab karya Ibn Abî al-Dunyâ, Syu‘ab al-Îmân dan al-Zuhd karya al-Baihaqî. Juga terdapat kitab dengan judul yang sama dengan karya al-Mundzirî ini, yaitu al-Targhîb wa al-Tarhîb karya Abû al-Qâsim al-Ashbihânî yang menjadi referensi al-Mundzirî dalam menuliskanal-Targhîb wa al-Tarhîb karyanya. Ia hanya mengambil tema-tema yang tidak terdapat pada kitab-kitab yang disebutkan di atas.
                                                            


5.    Karya-Karya Imam al Mundziri yang terkenal[8]
a.       At-Targhiib wat-Tarhiib.
b.      Mukhtashar Shahiih Muslim.
c.       Mukhtashar Sunan Abi Dawud.
d.      Syarhul-Tanbiih li-Abi Ishaq Asy-Syirazi fil-Fiqhisy-Syaafi’iy.
e.       Arba’uuna Hadiitsan fii Fadlli Isthinaa’il-Ma’ruuf.
f.       Al-I’lam bi-Akhbaari Syaikh Al-Bukhari Muhammad bin Salam.
g.      Mu’jam Syuyuukhih.’Amalul-Yaumi wal-Lailah.

6.    Sistematika Penulisan Kitab at Targhib wat Tarhib
Corak penulisan kitab al-Targhîb wa al-Tarhîb dapat dikatakan memiliki sistematika yang sangat maju pada masanya. Di samping tersusun rapi bab per-bab dengan urutan model al-Ahamm fa al-Ahamm (mendahulukan masalah yang lebih urgen) seperti urutan Kitâb al-‘IlmKitâb al-Thahârah lalu Kitâb al-Shalâh dan seterusnya, al-Mundzirî menuliskan panduan membaca kitabnya ini pada pendahuan berupa jenis hadis yang ia cantumkan hanya berkaitan dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb, melainkan sebagian kecil hadis yang tidak berkaitan dengan al-Targhîb wa al-Tarhîb lantaran rangkaian hadis tersebut mencakup aspek al-Targhîb wa al-Tarhîb dan aspek lainnya.[9]

7.    Sikap Imam al Mundziri Terhadap Kitabnya
Mengenai status hadis yang ia munculkan, ia mempunyai sikap tersendiri di tengah-tengah perbedaan pendapat ulama mengenai kualitas sanad hadis tersebut. Al-Mundzirî menuturkan -sebagaimana di atas-, jika para periwayat hadis itu kredibel, namun terdapat seorang periwayat yang diperselisihkan, maka ia menilainya hasan, mustaqîm, lâ ba’sa bih atau ungkapan lainnya tergantung kondisi sanad dan matan serta keberadaan syawâhid yang bisa mendukung kekuatannya. Bahkan ia juga mengingatkan kepada murid-muridnya yang menghadiri majelis imlâ’-nya terhadap beberapa periwayat seperti Abû Dâwûd yang tasâhul dengan konsep sukût-nya, al-Tirmidzî dengan tahsîn-nya, kemudian Ibn Hibbân dan al-Hâkim dengan tashhîh-nya. Namun menurutnya peringatan ini bukan dalam rangka mengkritik mereka, akan tetapi sebagai hal yang patut diamati oleh pembaca. Untuk periwayatan Abû Dâwûd yang dipakai oleh al-Mundzirî dalam kitabnya, ia meyakini bahwa kualitas hadis yang tidak dikomentari oleh Abû Dâwûd tidak kurang dari kualitas hasan, bahkan tidak jarang terdapat hadis yang mencapai syarat yang ditentukan oleh al-Bukhârî dan Muslim sehingga al-Bukhârî atau Muslim juga meriwayatkan hadis yang sama dengan riwayat Abû Dâwûd.[10]



KESIMPULAN
Al-Targhîb wa al-Tarhîb adalah sebuah kitab yang terdiri dari hadis-hadis Nabi Saw mengenai keutamaan-keutamaan yang dapat dicapai oleh seorang muslim ketika melakukan amalan-amalan baik, yang kemudian dinamakan dengan hadis-hadis Targhîb (ترغيب). Pada sisi lain kitab ini juga memuat hadis-hadis yang menjelaskan keburukan-keburukan yang akan menimpa seorang muslim jika melakukan hal-hal tidak baik. Hadis-hadis semacam ini disebut dengan hadis-hadis Tarhîb (ترهيب).









DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Dzahabî, Syams al-Dîn, Tadzkirah al-Huffâzh, edisi Zakariya ‘Umairat, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.I, 1419H).
Al-Mundzirî, ‘Abd al-‘Azhîm, al-Targhîb wa al-Tarhîb min al-Hadîts al-Syarîf, edisi Ibrâhîm Syamsuddîn, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.III, 1424H).




                                              


[2]Al-Dzahabî, Tadzkirah al-Huffâzh, edisi Zakariya ‘Umairat, (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet.I, 1419H). h.154.
[3] Al-Dzahabi, Ibid, h. 153
[4]Ibid.,
[5]Ibid.,
[6]Ibid.,
[7]Al-Mundzirî, al-Targhîb wa al-Tarhîb min al-Hadîts al-Syarîf, h.3.
[8] Http, Op Cit.,
[9]Al-Dzahabi, Ibid.,
[10]Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar